Jumat, 30 Juli 2010

contoh news letter

s
Beda wanita zaman sekarang dan wanita zaman Nabi dahulu

Sudah bukan hal yang tabu lagi bila kita menemui seorang wanita bekerja bagai seorang laki-laki dari pagi sampai malam mencari nafkah bagi kehidupan keluarganya. Padahal kita khususnya umat islam menganggap bahwa di dalam kehidupan keluarga, yang bertugas untuk mencari nafkah bagi keluarga adalah seorang ayah, bukan seorang ibu.

Tugas seorang ibu sesungguhnya hanya mengasuh anak dan menjaga rumah disaat suami sedang bekerja untuk mencari nafkah, itulah yang seharusnya dilakukan.

Namun agar kita bisa mengetahui perbedaan kodrat wanita dari zaman Nabi muhammad dulu hingga wanita modern sekarang ini


a.Kodrat wanita pada zaman Nabi muhammad saw

Dalam kehidupan berumah tangga semua mempunyai tugasnya masing-masing. Seoraorang istri berada di rumah dan ayah mencari nafkah untuk anak dan istrinya.anak pun mempunyai tugas untuk belajar demi masa depannya sendiri.

Itulah kesibukan yang di bebankan yang seharusnya dilakukan oleh setiap orang di dalam keluarganya masing-masing.

Seperti kodrat wanita pada zaman nabi muhammad saw dahulu adalah bila menjadi seorang istri hanya berkewajiban untuk mendidik anak di rumah, menjaga rumah, memasak. Seperti itulah tugas wanita untuk bisa di sebut sebagai istri yang sholiha.

Sementara seorang suami sibuk untuk mencari nafkah dengan bekerja diluar rumah, membanting tulang untuk kebahagian anak dan istrinya.

Wanita zaman sekarang
Namun pada saat ini banyak sekali kita temukan ibu-ibu yang bekerja mencari nafkah, untuk memenuhi kebutuhan keluarganya baik sebagai buruh ataupun sebagai penjahit pakaian,

Mengapa demikian, banyak sekali faktor-faktor yang membuat seorang ibu bekerja membanting tulang seperti kepala rumah tangga yang biasanya dibebankan kepada seorang ayah.

Berbagai hal yang memaksa seorang perempuan bekerja untuk mencari nafkah, mulai dari penghasilan suami tidak cukup, suami tidak bekerja,dan keinginan istri untuk membantu perekonomian keluarga atau juga keinginan dari wanita itu sendiri untuk tidak terlalu bergantung kepada suami.



Zaman sekarang memang banyak sekali kebutuhan yang harus di cukupi, mulai dari kebutuhan makan sehar-hari, menyekolahkan anak, serta kebutuhan lainnya yang tak mungkin untuk disebutkan satu persatu. Semua itu memaksa ibu-ibu rumah tangga untuk bekerja

Memang semua hal yang dilakukan terdapat dampak negatif dan positifnya.seorang istri ikut bekerja demi untuk mencukupi kebutuhan keluarga, dari segi ekonomi kebutuhan memang tercukupi, namun disisi yang lain anak-anak dirumah tidak memperoleh apa yang seharusnya mereka dapatkan. Bimbingan sekaligus pengawasan dari orang tua yang biasanya di bebankan oleh ibu.

Pengawasan orang tua kurang terhadap anak-anak, dan dapat mengakibatkan anak-anak bergaul dengan pergaulan yang tidak tepat.



.

“ Di balik pria yang mulia, pasti ada wanita yang mulia di belakangnya.”

Demikianlah pepatah yang tak asing di telinga kita. Jika terdapat laki-laki yang menjadi ulama cendekia atau tokoh ternama, maka lihatlah ibunya. Kita akan menjumpai keistimewaan padanya.

Kita tentu mengenaal Anas bin Malik R.A., Pembantu setia Rosulullah SAW. Anas adalah salah satu dari sahabat yang paling banyak membantu meriwayatkan hadist. Ibarat perguruan tinggi, Anas telah banyak meluluskan ulama-ulama hebat dalam sejarah. Sebut saja misalnya Hasan Al Bashri,Ibnu Sirin,Asy-Sya’bi, Umar bin Abdul Aziz dan sebagainya.


Anas tidak lahir dari belahan batu. Kecerdasanny6a tidak muncul begitu saja. Ada peran besar dari Ummu Sulaim R.A., ibunya. Ummu sulaim adalah seorang wanita yang cemerlang akalnya. Selain cerdas, ia juga penyabar dan pemberani. Ketiga sifat mulia inilah yang menurun kepada Anas dan mewrnai perangainya. Ya, kecerdasan biasanya melahirkan kecerdasan, kesabaran melahirkan kesabaran dan keberanian melahirkan keberanian.

Masih banyak kisah ulama-ulama yang hebat seperti Hasan Al-Bashri, Asy-syafi’i, dan sebagainya. Dan bertebaran pula kisah para mujahid yang gagah seperti empat putra Khansa’, Haritsah bin suraqah dan sebagainya. Dan dibalik mereka semua, terdapat sosok ibu, yang mendidik dan mengantarkan putra-putranya yang istimewa.



Pertama dan utama

Allah SWT telah menetapkan bahwa wanitalah tempat persemaian generasi manusia dan tempat menghasilkan ASI sebagai makanan awal terbaik di awal kehidupannya. Tanpa keikhlasan seorang ibu memelihara janin yang dikandungnya selama sembilan bulan, tidaka akan lahir anak manusia di bumi ini. Kerelaan dan kesabarannya ketika menyusui dan mengasuh bayinya, berperan besar terhadap pertumbuhan, perkembangan dan kesehatan anak. Karenanya posisi seorang wanita yang ridha dengan kehamilannya sebanding( dari segi pahala) dengan seorang prajurit yang berperang dijalan Allah sedang berpuasa.



Ibu memliki peran besar dalam membentuk watak, karakter, dan pengetahuan anak. Ibu adalah pendidik yang pertama, sebelum anak berguru kepada guru besar manapun. Sebab ibulah sosok yang pertama kali berinteraksi dengan anak, sosok pertama yang memberi rasa aman dan sosok pertama yang dipercaya dan didengar kata-katanya.

Disisi lain, anak bagaikan ‘radar’ yang dapat menangkap setiap objek yang ada disekitarnya. Perilaku ibu adalah kesan pertama yang ditangkap anak. Apabila ibu memiliki kepribadian yang agung dan tingkat ketakwaan yang tinggi, maka kesan pertama yang masuk ke dalam benak anak adalah kesan yang baik.

Kesan awal yang baik ini akan menjadi landasan yang kokoh bagi perkembangan kepribadianya. Disamping itu, anak anak membutuhkan figur contoh dalam mewujudkan nilai-nilai yang ditanamkan padanya selama proses belajar dimasa kanak-kanak, sebab akal anak belum sempurna untuk melakukan proses berfikir. Ia belum mampu menerjemahkan sendiri wujud nilai-nilai kehidupan yang diajarkan padanya.

Kekuatan figur ibu akan membuat anak mampu untuk menyaring apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Karena anak menjadikan apa yang diterima dari ibunya sebagai standar nilai. Oleh karena itu, ibu yang berkualitas akan mampu mendidik anaknya dengan baik.

Ibu berkualitas

Kriteria ibu berkualitas yang dibutuhkan dalm mendidik anak, antara lain:

1.Sholihah ini nampak pada ibu yang memiliki aqidah yang kuat dan senantiasa menjadikan aqidah islam sebagai standar baik dalam berfikir maupun bersikap. Ibu yang demikian akan memiliki keyakinan bahwa anak adalah amanah Allah yang akan dimintai pertanggung jawaban kelak di hari kiamat. Sehingga ia akan bersungguh-sungguh mendidik anak dengan keimanan yang kokoh sejak kecil. Kesungguhan nampak dari upaya melengkapi diri diri dengan sifat-sifat pendidik, seperti:

aIkhlas
bPenyayang
cMemiliki bahasa yang baik

Kemampuan berbahsa yang sangat baik dibutuhkan untuk merangsang aspek intelektual anak dan menumbuhkan kecenderungan naluri anak ke arah yang semestinya. Sehingga keingintahuan anak terhadap segala sesuatu bisa berkembang baik dan terjawab dengan baik. Demikian pula perkembangan emosi anak bis terkendali dan terarah dengan baik.

2. memiliki kesadaran untuk mendidik anak sebagai aset umat
Ibu harus memiliki kepekaan yang tinggi, berupaya mengetahui apa yang terjadi dalam kehidupan masyarakat di sekitarnya. Lebih dari itu ia berusaha agar dapat menguasai sebab akibat dari lingungan disekitarnya. Dengan demikian, ia mampu sejauh mana lingkungan lingkungan mempengaruhi tumbuh kembang anaknya. Serta mampu mengantisipasi pengaruh buru yang ditimbulkan oleh lingkungan. Sikap tersebut bisa menjadikan anak akan peka dan peduli terhadap lingkungan di sekitarnya.

3. mengetahui dan menguasai konsep pendidikan anak
Ibu harus memiliki pengetahuan yang tinggi. Dan harus bisa memahami perkembangan kondisi anak.(fisik,pikir dan nalurinya). Ibu juga harus mengetahui konsep pendidikan anak sesuai dengan tahap perkembangannya.
Menjadi ibu harus siap sebagai pendidik namun tak secara otomatis kita mimiliki kemampuan untuk mendidik. Butuh tekad dan perjuangan untuk mewujudkannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar